Hasil Penelitian Lanjutan Mengenai Kental Manis

by

Halo Sobat Petualang Cantik,

Kemarin siang (11/122020), saya mengikuti webinar mengenai hasil penelitian YAICI, PP Muslimat NU dan PP Aisyiyah di 5 Provinsi dengan mengedukasi 12 ribu kader sepanjang 2020. Penelitian ini ditujukan pada 1 dari 4 Balita masih ada yang minum kental manis setiap hari.

Apalagi di saat pandemic seperti ini, banyak orang yang penghasilannya berkurang bahkan tidak bekerja lagi. Ini yang menyebabkan bertambahnya angka penderita gizi buruk di Indonesia. Banyak para ibu yang mengganti susu balitanya dengan SKM. Sebenarnya ini sangat tidak baik bagi pertumbuhan balita tersebut.

Seperti yang kita ketahui bahwa SKM itu bukan susu, tetapi banyak sekali orang Indonesia tidak mengetahui hal ini. Minimnya pengetahuan para ibu membuat YAICI, PP Muslimat NU dan PP Aisyiyah bergerak untuk mengedukasi para ibu.

Upaya ini dilakukan untuk membentengin calon-calon generasi emas 2045 dengan memberikan asupan gizi yang cukup untuk meningkatkan imunitas tubuh anak. Banyak hal yang telah dilakukan, agar imunitas anak terjaga dengan baik salah satunya dengan memberikan mereka susu.

Makanya para ibu disarankan untuk memberikan asi langsung kepada bayinya, agar tidak salah dalam memberikan nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh mereka. Pemberian asi atau susu dapat meningkatkan daya tahan mereka.

Susu yang disarankan adalah susu yang memiliki kandungan kalsium, protein , lemak, serta vitamin B1 dan C. Ibu yang memberikan asi tentu saja kandungan yang saya sebutkan diatas sudah terdapat didalammya. Dengan begitu anak dapat menjaga kesehatan tubuhnya agar fit selalu.

Hasil penelitian persepsi masyarakat tentang kental manis disampaikan dalam webinar ini, yaitu oleh Dr. Tria Astika Endah Permatasari, SKM.MKM, beliau adalah Dosen Prodia Gizi. Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta. Ibu Tria Astika menjelaskan “ Pemberian susu pada anak harus disesuaikan dengan kategori usia, untuk usia 0-6 bulan, berikan ASI ekslusif , karena zat gizi yang dibutuhkan anak usia 0-6 bulan pertama tersebut ada pada ASI “.

Dr Tria juga menyebutkan setelah usia 6 bulan , makanan pendamping ASI (MPASI) juga hal yang penting. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menganjurkan anak diberikan susu tambahan karena mengandung zat gizi dan micronutrient yang diperlukan dalam tumbuh kembang anak seperti fosfor dan kalsium. Namun, perlu diingat adalah tidak semua susu baik untuk dikonsumsi oleh anak.

Nah, salah satu jenis susu yang dilarang diberikan pada anak adalah SKM (Susu Kental Manis) terutama pada bayi dan balita. “ Kental manis sebetulnya bukanlah susu, dilihat dari table kandungan gizi, kental manis memiliki kandungan karbohidrat paling tinggi yaitu 55% per 100 gram, sehingga tidak dianjurkan untuk balita. “ jelas dr. Tria.

Nah, dengerin tuh kata dokter Tria. Oia, anak yang sudah terbiasa mengkonsumsi kental manis makan beresiko mengalami undernutrision dan juga overnutrision. Undernutrion atau kurang gizi apabila orangtua merasa anak sudah cukup gizi dengan hanya mengkomsumsi kental manis saja, lalu lupa atau tidak memperhatikan asupan gizi lainnya. Sementara overnutrision apabila anak mengkonsumsi kental manis dengan porsi yang berlebih dan konsumsi makanan lain seperti snack dan cemilan tidak terkontrol.

Penelitian yang dilakukan YAICI, PP Muslimat NU dan PP Aisyiyah mengenai Persepsi Masyarakat Tentang Kental Manis pada 2020 menunjukan hasil yang serupa dengan penelitian yang dilakukan di DKI Jakarta , Jawa Barat, Jawa Timur, NTT dan Maluku. Total responden adalah 2.068 ibu yang memiliki anak 0-59 bulan atau 5 tahun.

Arif Hidayat SE, MM sebagai Ketua Harian Yayasan Abhipraya Insan Cendikia Indonesia (YAICI) menanggapi bahwa “ Dari masih tingginyan persentaseibu yang belum mengetahui penggunaan kental manis, terlihat bahwa memang informasi dan sosialisasi tentang produk kental manis ini belum merata, bahkan di Ibukota sekalipun”.

Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah Chairunnuisa mengatakan media sangat memiliki peran penting di dalam memberikan persepsi kepada masyarakat. “Betul, bahwa memang media ini memiliki peran di dalam memberikan persepsi kepada masyarakat tentang kental manis adalah susu,” jelas Chairunnisa.

Sedangkan Erna Yulia Soefira, selaku Ketua Bidang Kesehatan PP Muslimat NU mengatakan bahwa ia dan kadernya di seluruh Indonesia mencoba untuk merubah persepsi bahwa kental manis bukanlah susu yang bisa diminum untuk balita. “ Tapi memang sangat sulit ya, saat kita melakukan sosialisasi itu karena sudah begitu lama mereka itu mengetahui bahwa susu kental manis itu sehat. Sudah menjadi kebiasaan , setelah lepas ASI mereka mengganti tidak dengan susu anak, tapi memberikan kental manis,”papar Ibu Erna.

Selain melaksanakan penelitian, sepanjang 2020 YAICI bersama PP Aisyiyah dan PP Muslimat NU dan didukung oleh mitra-mitra lainnya juga gencar melakukan sosialisasi dan edukasi untuk masyarakat secara online. Sebanyak 12.560 kader kedua organisasi perempuan terbesar di Indonesia ini tersebar di 34 provinsi dan beberapa cabang di luar negeri telah terpapar edukasi tentang kental manis.

Ketua Harian YAICI Arif Hidayat mengatakan, pentingnya persoalan kental manis tidak hanya sebatas mencukupi gizi anak, namun juga potensi kerugian yang dialami negara akibat stunting bisa mencapai 2 persen sampai 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) setiap tahunnya. Ini angka yang besar sekali. Kita lihat PDB 2019 sebesar Rp 15.833,9 triliun, maka kerugian stunting bisa mencapai Rp 474,9 triliun. Jumlah itu mencakup biaya mengatasi stunting dan hilangnya potensi pendapatan akibat rendahnya produktivitas anak yang tumbuh dengan kondisi stunting, jelas Arif.

YAICI telah berkomitmen melakukan edukasi yang berkelanjutan bagi masyarakat, dalam rangka mewujudkan generasi yang unggul dimasa mendatang. Pandemi memang sempat menjadi hambatan dalam mengedukasi masyarakat tahun ini, tentu tidak seefektif bila edukasi secara langsung dengan masyarakat. Bagaimanapun, upaya ini tidak boleh terhenti, karena itulah kami berharap hasil penelitian ini dapat mendorong pemerintah untuk meningkatkan parstisipasinya dalam mengedukasi masyarakat, pungkas Arif Hidayat.

Nah teman-teman, dari semua pemaparan diatas, tentunya kalian paham dengan apa yang disampaikan. Semoga bermanfaat ya…ingat kental manis bukan susu untuk anak dan balita. sekian dan terima kasih.

 

 

Salam cantik,

 

Lita Chan Lai

12 Responses
  • Lidya
    Januari 20, 2021

    Bahaya ya kental manis buat balita kalau dikonsumsi setiap hari sebagai susu. Banyak yang maish belum ngerti nih kalau kental manis ini bukan susu tapi makanan manis mengandung gula dan bisa menyebabkan stunting ya Lita

  • lianny hendrawati
    Januari 20, 2021

    Mungkin masih banyak orang tua yang belum paham ya dan memberikan kental manis sebagai susu untuk anaknya, padahal bisa menyebabkan stunting juga. Memang perlu banyak edukasi ke masyarakat tentang hal ini.

  • Okti Li
    Januari 20, 2021

    Di kampung saya pun masih banyak kok pemahaman orang tua yg memberi anak mereka skm sebagai pengganti susu formula. Alasannya kan susu juga. Murah tepatnya…

  • Helena magdalena
    Januari 21, 2021

    Aku masih menemukan bbrp ibu yg ngasih kental manis utk balitanya. Agak sedih sih tp alasannya krn lebih murah dibanding susu formula mba. Semoga edukasi terus ada ya shingga ibu2 indonesia lbh paham

  • astin
    Januari 21, 2021

    Dulu banget susuku kental manis juga. Diseduh menggunakan air hangat lalu diminum. beberapa tahun belakangan, baru tahu dong, bahwa kental manis itu sebetulnya bukan susu dan lebih banyak mengandung gula. Alhamdulillah, gak lama sih aku konsumsi SKM itu

    Sekarang di rumah ada SKM tapi untuk olesan susu atau sebagai topping es buah, tapi jarang sih. Jadi tiga bulan bisa habis SKM satu pouch besar itu.

  • Nchie Hanie
    Januari 21, 2021

    Huhuu, iya nih masih banyak yang pake SKM buat balita, mungkin mereka belom memahami dan dari segi harga terjangkau banget. Tapi rasanya terlalu manis.
    Masih perlu edukasi lagi ya, aku pun baru ngeh kalo ternyata kental manis kurang baik buat kesehatan anak.
    Makasih loh sharing dan penjelasannya.

  • Demia
    Januari 21, 2021

    iya nih masih banyak yg pake SKM buat balita yaaa, padahal nggak terlalu bagus, info ini wajib banget di sosialisaikan lebih lagi nih biar nyampe ke semua kalangan masyarakat huhu

  • Rach Alida
    Januari 22, 2021

    Sosialisasi seperti ini perlu banget karena masih banyak yang anggap kalau susu kental manis ini buat dikonsumsi anak dan balita

  • lendyagasshi
    Januari 22, 2021

    edukasi yang baik sekali.
    Sayang edukasi belum sejalan dengan pendapatan masyarakat menengah ke bawah yaa, kak.
    Adakah langkah yang lebih real untuk masyarakat terutama yang tinggal jauh dari pusat kota?

  • Nia Haryanto
    Januari 22, 2021

    Duh, jadi inget di sini deh. Masih banyak anak balita yang dikasih SKM sebagai pengganti sufor. Sementara ibunya pada kerja. Dibilangin juga susah, toh gak bisa kasih solusi bantu ngasih sufor. Karena faktor materi sih. Mereka tahu sebenernya itu tidak boleh. Toh anak mereka juga jadi banyak yang diare. Tapi gak ada pilihan lain. 🙁

  • Diah Kusumastuti
    Januari 22, 2021

    Kasian emang ya kalau anak balita apalagi batita dikasih kental manis. Tapi ya kebanyakan gitu itu karena faktor enggak tau atau faktor ekonomi sih..
    Ya semoga akan ada edukasi yang lebih sering dilakukan, dan solusinya.

  • indah nuria
    Januari 22, 2021

    kita harus pandai – pandai melihat kandungan gizi yang oke untuk kita dan anak – anak kit aya mba.. jangan terjebak mitos

What do you think?

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *