39% Ibu Tidak Memberi ASI Eksklusif, Hasil Survei KOPMAS

by

Halo Sobat Petualang Cantik, 

 

Sebanyak 39% ibu tidak memberikan ASI Eksklusif pada anak bayinya! Kok bisa ya? Jujur, pernyataan ini bikin kaget, apalagi ini terjadi pada orang-orang yang berada di perkotaan. 

Angka yang disebutkan ini aku dapat dari hasil survey KOPMAS (Koalisi Perlindungan Kesehatan Masyarakat). Kebetulan aku hadir di acara Forum Diskusi yang diselenggarakan oleh KOPMAS bekerjasama dengan Nutrisi Keluarga pada hari Selasa (19/03/2024) di Dafam Hotel, Jakarta. Membahas tentang ” Hasil Survey Pemberian ASI, Kendala dan Fakta Pemenuhan ASI Eksklusif”.

Menghadirkan Narasumber :

  1. Dr. Agnes Tri Harjaningrum, Sp. A ( Dokter Spesialis Anak)
  2. Yuli Supriati ( Sekjen Kopmas)
  3. Prof. Dr. Tria Astika E.P, S.K.M.,MKM (Guru Besar Ilmu Gizi Kesehatan Masyarakat/ Ahli Nutrisi)

Survey yang dilakukan terhadap 1300 Responden dari wilayah JABODETABEK ini, menghasilkan temuan baru seperti 39% Ibu tidak memberikan ASI Eksklusifnya terhadap bayinya. Kok bisa ya? Hampir setengah dari ibu yang baru memiliki anak dan  hidup di tengah perkotaan. Dan rata-rata si Ibu berhenti memberikan ASI di umur 0 – 1 Bulan sebanyak 27,5%. Lalu  sebanyak 28,5% ASI eksklusif terhenti pada rentang usia 2-4 bulan. Angka ini termasuk tinggi lho!

Lalu apa saja alasan mereka untuk tidak memberikan ASI? Ternyata 54,8% karena pada saat bayi lahir ASInya tidak keluar lebih 3 hari atau ASInya sedikit dan puting yang lecet. Miris sih melihat fakta seperti ini di wilayah perkotaan. 

Banyak orang berfikir, Ibu muda diperkotaan lebih sadar akan pemahaman mengenai nutrisi bahkan lebih teredukasi. Karena semua informasi lebih mudah didapat oleh orang di perkotaan. Tapi faktanya justru bertindak lain. Hal ini kemungkinan akan mengarah pada masalah lainnya. 

Jika bayi tidak mendapatkan ASI tentu saja akan mendapatkan pengganti ASI dengan Susu Formula. Nyatanya tidak demikian. Ini yang sangat disayangkan sekali. Hal ini membuat kekhawatiran baru bagi pemerintah dan masyarakat. 

Sebanyak 85,7% ibu yang terkendala ASI memberikan susu formula untuk bayi, 7% ibu memberikan kental manis, 4,4% ibu memberikan UHT, 1,6% ibu memberikan air teh, air gula, air tajin dan sisanya sebanyak 1,3% ibu memberikan susu murni untuk bayinya.

Selain kendala dalam hal pemberian ASI eksklusif, KOPMAS juga melakukan survei untuk menyoroti pilihan makanan yang diberikan ibu selama periode MPASI.  

Ibu Yuli, Sekjen KOPMAS mengatakan “Dari survei ini patut kita perhatikan bahwa ternyata ibu-ibu yang terkendala dalam memberikan ASI untuk bayi, ternyata masih ada yang keliru memberikan asupan untuk anaknya. Hal itu terlihat dari jenis susu yang diberikan seperti kental manis, UHT dan juga susu murni. Lantas periode MPASI, selain bahan-bahan seperti telur, ikan, sayur dan buah-buahan yang diberikan untuk anak, kami juga menemukan 8,1 % ibu menambahkan susu murni ke dalam MPASI anak, 6% menambahkan kental manis, 2,2% memberikan UHT serta 2,8% memberikan air gula atau teh manis”.

Dokter Anak RS Permata Depok dr Agnes Tri Harjaingrum Sp. A menjelaskan mengenai asupan yang baik untuk anak, khususnya bayi dibawah 1 tahun. “Untuk bayi umur 0 sampai 6 bulan, kalau bukan ASI ya susu formula untuk bayi”. 

ASI adalah satu-satunya asupan yang dapat diberikan untuk bayi usia 0 hingga 6 bulan. Namun demikian, ada beberapa situasi yang membuat ibu terkendala memberikan ASI untuk anak sehingga ibu harus memberikan pengganti ASI berupa susu formula. 

“Jangan sampai kita memaksakan ASI eksklusif, sementara memang situasinya tidak memungkinkan. Ini justru berbahaya bagi anak. Yang harus diperhatikan adalah memastikan kebutuhan nutrisi bayi dan anak terpenuhi,” jelas Agnes.

Mengenai temuan pemberian susu UHT dan susu murni sebagai pengganti ASI maupun pada periode MPASI. Agnes berkata “Gizi yang terkandung dalam UHT sangat tidak sesuai. Dalam UHT juga ada penambahan rasa dan gula, dan ini sangat tidak di rekomendasi untuk bayi 0-6 bulan dimana organ pencernaan masih tumbuh dan berkembang. Sementara untuk susu murni, ada resiko tercemar bakteri atau tidak higienis”. 

Penyebab tidak beri ASI selain ASI tidak keluar, ASI keluarnya sedikit, puting lecet adalah ibu terpisah dari bayi karena alasan bekerja, serta ibu rumah tangga yang tidak mendapat support system yang baik selama menyusui dan indikasi medis.

Perlu di garis bawahi bahwa mendapat support system yang baik selama menyusui sangat diharuskan agar ASI juga keluar dengan baik. Diperlukan dukungan dari Suami, Orangtua, Teman dan semua di lingkungan. Jangan sampai mental si ibu terganggu oleh omongan yang menyudutkan atau perlakuan yang membuat strees. Kadang si Ibu bisa mengalami peristiwa Babyblues dimana menjadi mudah was-was, emosi tidak terkontrol yang mengakibatkan tindakan berbahaya seorang ibu pada dirinya atau anaknya. 

Air susu menjadi sulit keluar jika si ibu alami kecemasan. Untuk itu perlu dukungan agar si Ibu tetap stabil kondisi badan dan mentalnya. Hal ini pernah terjadi pada keluarga yaitu adek saya sendiri . Pasca melahirkan anak pertama dia memdapatkan banyak masukan dan saran mengenai anak yang baru dia lahirkan. Karena banyaknya saran dan masukan ini justru membuat dia panik, ketakutan, khawatir dan was-was. Hal tersebut membuat dia ingin melempar bayi yang ada ditangannya. 

Beruntung hal itu tidak terjadi karena kebetulan saya sedang mengunjunginya. Mencoba menenangkan dan memberi support. Melihat hal tersebut, saya  konsultasikan kepada orangtua agar bisa memberikan solusi terbaik. Akhirnya keluargaku mendampinginya terus hingga adek berhasil melewati masa sulit ketika mengalami babyblues. 

Guru Besar Ilmu Gizi Universitas Muhammadyah Jakarta Prof. Dr Tria Astika Endah Permatasari mengatakan hasil survey yang dilakukan KOPMAS telah memperkuat survei-survei sebelumnya mengenai kegagalan ibu menyusui. 

“Dari hasil survei ini semakin meyakinkan kita bahwa ini adalah warning bagi kita dan juga pemerintah, bahwa banyak sekali calon-calon generasi masa depan kita yang ternyata tidak mendapat asupan yang tepat sejak bayi. Persentase yang memberikan kental manis, UHT, susu murni dan air gula ini memang terlihat kecil-kecil, tapi dampaknya terhadap kesehatan anak dimasa mendatang cukup besar. Bila tidak diantisipasi, kedepannya akan menjadi beban bagi masyarakat dan juga negara,” jelas professor termuda UMJ ini. 

Apalagi akhir-akhir ini sering terjadi masalah dan kasus ibu yang alami babyblues hingga mau melempar anaknya ke jalan, atau kejadian ibu melempar anaknya ke dalam sumur. Jika dukungan suami, keluarga dan lingkungan bagus, saya rasa hal ini tidak akan terjadi. 

Kehidupan para Ibu yang memiliki anak dapat memperhatikan tumbuh kembang anaknya  akan berhasil dengan baik demi menuju generasi emas di tahun 2045 nanti.

Demikian ulasan ini dibuat, semoga dapat bermanfaat dan menjadi perhatian bagi kita semua. 

 

Salam Cantik,

 

Lita Chan Lai 

 

No Comments Yet.

What do you think?

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *