Ondel-Ondel Galau Mengulas Beragam Kebudayaan Betawi

by

Halo Petualang Cantik ,

Apakabar kalian, pastinya baik-baik aja ya. Hari ini saya menemukan seorang anak berumur 15 tahun yang sangat berprestasi. Dia mampu melahirkan sebuah buku yang menggelitik hati para sejarahwan Betawi untuk merubah mindset para warga Betawi dan masyarakat umum tentang budaya dan adat istiadatnya.

Frances bersama Kepala Sekolah Binus School dan Bang Indra Sutisna

Frances bersama Kepala Sekolah Binus School dan Bang Indra Sutisna

Kenapa Begitu?

Dalam buku yang di tulis Fraces Cailtin Tirtaguna dengan judul “ONDEL-ONDEL GALAU” membuat para sejarahwan merasa terpanggil untuk meluruskan fungsi ondel-ondel yang sebenarnya. Kita ketahui banyak ondel-ondel turun ke jalan untuk mengamen dan meminta jasanya tampilannya para orang-orang yang ditemuinya.

Nah Frances salah satu siswi kelas 10 BINUS SCHOOL Simprug melihat ondel-ondel lusuh yang mengamen dimacetan Ibukota , hal ini membuat Frances hati resah dan penasaran ingin mengetahui bagaimana ondel-ondel ini sebenarnya . Keingintahuannya berhasil membawanya pada sebuah tempat di Setu Babakan. Yah, tempat yang tepat untuk mencari tahu tentang asal usul ondel-ondel.

Dia bertanya dan melakukan riset di Setu Babakan. Keingintahuan Frances di sambut hangat oleh para budayawan Betawi, salah satunya adalah Bang Indra Sutisna. Dari Bang Indra inilah Frances banyak tahu tentang peranan penting ondel-ondel yang ternyata sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Dan kini ondel-ondel sudah menjadi ikon Kota Jakarta.

Frances Caitlin Tirtaguna saat peluncuran buku Ondel-ondel Galau sebagai karyanya

Frances Caitlin Tirtaguna saat peluncuran buku Ondel-ondel Galau sebagai karyanya

Isi Buku Ondel-ondel Galau

Dalam novel yang ditulis oleh Frances ini menceritakan aktifitasnya selama satu minggu yang di rangkum dalam hari –hari yang mulai hari senin, selasa, rabu, kamis, jum’at, sabtu dan minggu. Buku yang ditulis dalam bahasa inggris ini terdapat berbagai macam makan khas Betawi yang saya sendiri baru ketahui setelah membaca buku ini.

Makanan yang dia kenalkan dalam buku ini ada beberapa yang saya kenal,seperti:  kue rangi, kue pepe, kue putu mayang, kue cantik manis, kerak telor, roti buaya, nasi uduk, gado-gado, es cendol betawi, bir pletok, soto betawi, es doger, kue putu dan lai-lain.

Sumpah, makanan yang disebutkan tadi sering saya temui saat saya masih kecil. Pokoknya masih keingatan terus. Tapi lambat laun zaman berubah, makanan yang dulu sering di temui ada beberapa yang kini jarang sekali saya temui. Perubahan zaman yang bikin makanan tersebut hilang dari peredaran dan makanan luar negeri justru mendominasi.

Selain makanan Frances dalamu bukunya juga mengenalkan beberapa lagu betawi yang terkenal dinyanyikan oleh Alm. Benyamin Sueb. Ada juga pakaian wanita yang sering dikenakan pada zaman dulu, entah kalau sekarang. Kemungkinan hanya dipakai pada saat karnaval atau ajang pencarian none Jakarta.

Tambah lagi pengetahuan saya setelah membaca buku Ondel-ondel Galau, ternyata ada juga di Betawi Wayang Golek dan Wayang Kulit. Hemm…hamper tidak pernah deh saya melihat ini. Kalau tarian dan tari topeng sih pernah saya lihat. Pada saat louching bukupun menampilkan tarian khas Betawi.

Hahaha…saya mau ketawa. Ternyata di buku Ondel-ondel Galau bahas juga tentang permainan saya waktu kecil. Ada senapan dari bambu kecil yang disodok langsung nembak. Pelurunya pake kertas Koran yang dibasahi, hahaha…itu mainan saya waktu kecil. Ada juga gasing dan boneka lenong, kalau boneka lenong jarang saya lihat.

Waduh, Frances juga tahu pencak silat cingkrik. Itu mah jurus yang biasadipake bang Pitung zaman penjajahan Belanda.  Budaya Betawi lainnya yang ada di buku Ondel-ondel Galau adalah alat music Jipeng dan Tanjidor. Pertunjukan seni yang di miliki Betawi lainnya adalah Topeng, keroncong kemayoran, gambang kromong, lenong betawi, tari cokek. Kalau ondel-ondel sudah pasti ada dalam buku karya Frances.

Seneng banget kenal buku Ondel-ondel Galau ini. Yang tadinya tidak tahu menjadi tahu berkat Frances. Wajar saja kalau para sejarahwan Betawi merasa bangga dengan adanya buku Ondel-ondel Galau. Ternyata isinya penuh daya tarik yang perlu kita ketahui mengenai Betawi.

Bang Indra menyambut positif dengan apa yang dilakukan Frances. Buku ini menjadi pelajaran kita semua, karena menurutnya jika generasi muda dan anak-anak makin jauh dengan budayanya sendiri maka dikhawatirkan Jakarta akan kehilangan jati diri.

“ Saya berterimakasih  dengan apa yang dilakukan Frances untuk menulis buku ini , semoga dengan adanya buku yang bakal terbit , mengenai adanya soal bahasa atau kaitan tentang budaya, isi-isi mengenai budaya kita tinggal lihat saja buku ini. Tetapi yang pasti  kita tidak boleh kehilangan budaya dan jati diri kita. Betawi sebagai inti kota Jakarta harus kita jaga,” kata Bang Indra.

Makanan Khas Betawi

Makanan Khas Betawi

Lounching Buku Ondel-ondel Galau di Binus School

Pastinya pada bertanya-tanya kenapa lounching bukunya di lakukan di Binus School. Karena Frances adalah siswi di Binus School sering berprestasi gada salahnya dong Binus School merasa bangga dengan adanya peluncuran buku karya siswinya ini.

Prestasi Frances yang tercatat adalah :

  1. Menjadi salah satu perwakilan sekolahnya untuk Asia Pasific Young Leaders Convention2018 di Singapura. Acara yang mengusung tema Embracing Unity, Valuing Diversity diikuti oleh 6 negara diselenggarakan selama seminggu penuh awal april 2018 dan Frances mendapatkan juara 1 Placa for Overall Team Presentation.
  2. Sejak kecil Frances gemar menulis, berkat kegemarannya terhadap seni tulis Frances lolos seleksi dari Standford University, USA untuk mengikuti kursus Jurnalis Ekspositori di universitas tersebut pada tahun 2015 ( saat itu masih duduk dikelas 7).
  3. Selain hobby menulis, anak kedua dari dua bersaudara ini juga gemar berbicara di depan umum. Ini dibuktikan dengan prestasi yang diperolehnya lewat beberapa kompetisi nasional maupun internasional yang diikutinya. Diantaranya sebagai pemenang Peringkat 11 Dunia Lomba Debat dari The World Scholar’s Cup Tournament of Champion’ di Yale University USA (2015) dan Peringkat 5 dalam Deliberative Speech Contest yang diadakan oleh The Harvard Debate Council Summer Workshop (2016) di Harvard University, USA. Frances juga tercatat sebagai delegasi termuda dari sekolahnya untuk Harvard Model United Nations 2016 di Beijing.
  4. Selain beragam prestasi yang telah diterimanya, Frances piawai dalam memainkan alat musik seperti piano yang dipelajarinya sejak usia 4 tahun serta saxophone dan flute. Pada Desember 2017, Frances meraih penghargaan sebagai st Winner sekaligus 1″ Runner Up pada CDE Open Piano Competition. Frances juga mendapatkan kesempatan menampilkan komposisi lagunya sendiri di Yamaha Junior Original Concert di tingkat Jabodetabek dari tahun 2011 s/d 2016. Pada 25 Maret 2018 yang lalu, penampilannya di High Scorer’s Concert ABRSM Frances menjadi salah satu peraih nilai ujian piano tertinggi di Jakarta.

Semua prestasi dan penghargaan yang diraih Frances berkat komitmennya yang tinggi pada setiap bidang yang di Komitmen itu pula yang membawa gadis kecil dari pasangan Djohariah Sastradihardja dan Lukman Tirtaguna ini berkeinginan untuk turut mempromosikan negaranya lewat  sebuah cerita dalam buku berjudul “Ondel-ondel Galau”.

Roti Buaya

Roti Buaya

Dalam rangkaian risetnya, Frances juga dipertemukan dengan ketua Lembaga Kebudayaan Betawi sekaligus akademisi di Universitas Indonesia, yaitu Bang Yahya Andi . Bang Yahya menyambut baik adanya buku Ondel-ondel Galau ini. la berharap selain dibuatkan dalam bentuk cetak, buku ini juga diharapkan dibuatkan versi hidupnya. Agar kebudayaan Betawi bisa lebih menyebar lagi bukan hanya di tanah Betawi saja, tetapi bisa menyebar sampai keluar negeri.

“Buku ini penting ada di zaman sekarang, dimana semuanya saling kejar mengejar untuk berada di depan dan belum tentu mempunyai ide yang sama. Oleh karena itu pentingnya untuk kembali kepada mata air dan warisan yang ingin digali. Uniknya, ini berlari dengan gaya hidup populer, gaya hidup zaman sekarang, saya berharap buku ini akan menjadi pemenang dalam adu lari tersebut,” ujar Bang Yahya.

Batik Betawi

Batik Betawi

Cita-cita para tokoh budaya Betawi sejalan dengan cita-cita Frances. Buku ini merupakan perpaduan imajinasi, kreativitas  dan idealisme yang dapat memicu keingintahuan anak-anak dan remaja seusainya di Jakarta dalam mengetahui lebih jauh budaya tempat tinggal mereka.

Buku ini diproduksi dan distribusikan oleh Gramedia Pustaka Utama dan bias didapat di seluruh took buku Gramedia terdekat. Peluncuran buku ini di hadiri oleh Tokoh Kebudayaan Betawi, Remaja Betawi dan juga diramaikan oleh pertunjukkan Tarian Betawi “Nandak Abang None” , Musik Gambang Kromong,  dan Lenong Bocah dari Sanggar Seni Setu Babakan.

Diacara Lounching buku Ondel-ondel Galau tamu undangan dapat menikmati berbagai jajanan khas Betawi, seperti kerak telor, kue pancong, kue rangi dan lain-lain. Saya dan teman-teman sepulang dari acara langsung mencari makanan yang jarang sekali saya temui saat ini, yaitu kue rangi. Setelah dapat, senangnya bukan main.

23 Responses
  • Ilham Sadli
    Mei 3, 2018

    semuda itu prestasi sudah banyak… kok jadi malu aku yak yang punya prestasi hanya secuil

  • Suciarti Wahyuningtyas
    Mei 8, 2018

    Seru banget emang kalau kita bisa tau tentang budaya setiap daerah ya apalagi budaya Betawi, tulisan-tulisanmu inspiratif mbak

  • urmilamile
    Mei 8, 2018

    bagus banget nih kak, duh anak kecil jaman sekrang pinter2 ya 🙂 seneng klo ada yg sepositif ini

  • Atisatya Arifin
    Mei 8, 2018

    Luar biasa anak umuran segitu udah menerbitkan bukunya sendiri dan punya segudang prestasi. Yang kaya gini nih mesti di-up biar jadi panutan kids zaman now.

  • cici desri
    Mei 9, 2018

    ya ampun se kecil itu sudah memikirkan hal-hal yang bisa membawa perubahan ya mba, malu aku yang masih sibuk dg ego sendiri.. makasi banyak mba lita sharing nya.. i love this so much

  • Yunita
    Mei 9, 2018

    Bangga rasanya melihat anak berprestasi, sekolah di sekolah berlabel International school namun tetap mencintai budaya lokal. Jadi mau ketemu Frances. Murid2ku selalu “kupaksa” baca atau bikin paper tentang kebudayaan Indonesia, karena pengetahuan anak2 zaman sekarang tentang budaya dan seni terutama lokal sangat kurang

  • Caroline Adenan
    Mei 9, 2018

    Kereen banget ini anak usia segitu udah bisa prestasi cemerlang..

  • silvia
    Mei 9, 2018

    Anak seumuran Fraces saja udah punya karya, nggak tanggung-tanggung yang diangkat ke dalam karyanya budaya negeri sendiri. Langka, sungguh langka. Malu yan aku yang udah seumuran gini cuma gini-gini aja.

  • Fenni Bungsu
    Mei 9, 2018

    Yuk, semangat kan untuk melestarikan budaya Indonesia

  • Emma
    Mei 10, 2018

    Keren yaa bangga dech dengan bangsa sendiri top buat ondel ondel jangan galau lg ye

  • Marga
    Mei 10, 2018

    Kereeen, kecil kecil udah berkarya. Aku waktu seusia dia ngapain aja ya…..

  • Honey Josep
    Mei 11, 2018

    wow! jempol buat Frances! Mau beli bukunya buat anak-anak ah 🙂

  • Selamet Hariadi
    Mei 12, 2018

    Betawi banyak kebudayaan yang perlu dilestarikan di zaman sekarang ini…

  • maya rumi
    Mei 14, 2018

    malu deh rasanya kalau ada anak kecil yang lebih “ngeh” dengan budaya, keinginan untuk lebih melestarikan budaya betawi yang dilakukannya lebih nyata.. btw mbak di daerah kantor aq masih ada tuh yang jual kue rangi, jadi masih suka nikmatin

  • Luana Yunaneva
    Mei 14, 2018

    Lihat ondel2nya sih aq belum pernah tapi kalo cobain jajan2 di atas masih ada sih di daerah ku, di Jawa timur, mbak

  • Fania surya
    Mei 14, 2018

    Judul bukunya lucu dan aku salfok lihat roti buayanya juga lucu, gak nyeremin.

    Hebat si Frances ini ya. Masih muda sudah berkreasi. Patut ditiru.

  • Wian
    Mei 14, 2018

    Usia 10th tapi prestasinya udah sebanyak itu? Hebat banget orang tuanya.

    Nahh aku juga sempet miris nih liat ondel2 skrg banyak yg dipake utk ngamen. Gimana yaa… itukan icon kota jakarta ya, tp kok jd berkonotasi gak bagus menurut aku.

  • windhu
    Mei 14, 2018

    Masih muda, kaya prestasi dan bisa melihat sesuatu yang biasa seperti ondel-ondel di jalanan menjadi tulisan berharga. Pantas saja, sejarawan Betawi mengapreasiasi tulisan Ondel-Ondel Galau ini.

  • Titi
    Mei 14, 2018

    Keren sekali anak ini, malu saya sebagai yang jauh lebih tua. Karyanya luar biasa, disaat anak muda seumurnya sedang asik mengamini setiap budaya luar yang masuk ke Indo. Such an amazing girl.

  • Tri Sapta Mw
    Mei 14, 2018

    Ondel-ondel sudah sampai kalimantan ngamen di jalanan. Fungsi sesungguhnya berubah. Semoga ondel-ondel tidak galau lagi. Aku baca blogmu cepat. Jadi bagaimana pengamen di jalanan itu dikaryakan atau bagaimana?

  • unggulcenter
    Mei 16, 2018

    Keren! Budaya betawi dalam satu buku, dan buku tersebut novel! Bukan buku monoton pariwisata.

  • Helena
    Mei 18, 2018

    Waaaw keeren banget ini si kakak abege udah punya buku sendiri.

  • PutriKPM
    Mei 21, 2018

    Ya allah aku terharu, anak seusia dia aja bisa melestarikan budaya gini ya. Padahal aku udah agak kesel sama ondel-ondel yang dijadiin ladang cari uang alias minta-minta. Nyebelin banget kalau di jalan bikin macet 🙁

Tinggalkan Balasan ke Wian Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *