Naskah I La Galigo Sebagai Naskah Mythologi Religis

by
Gambar hanya  sebagai Ilustrasi

Gambar hanya sebagai Ilustrasi

Naskah I La Galigo dari kaca mata Andi Anthon Pangerang seorang sejarawan Tana Luwu dan satu-satunya orang yang paham akan sejarah Tana Luwu. Pada saat Workshop yang diadakan di Jakarta, 23 Januari yang lalu, beliau memaparkan semua sejarah Tana Luwu yang dia ketahui sepanjang masanya. Salah satunya adalah mengenai Naskah I La Galigo.

Saya akan menulis beberapa bagian yang saya dapat dari Workshop tersebut. semoga ini dapat berguna untuk semua masyarakat Indonesia dalam hal pembelajaran sejarah yang tersimpan dalam di Tana Luwu.

Sebelum saya lanjutkan, sebaiknya kita perlu tahu Naskah I La Galigo menurut Andi Anthon Pangerang dapat dipahami dari berbagai aspek, yaitu :
1. I La Galigo sebagai Naskah Mythologi Religis
2. I La Galigo sebagai Naskah Pra Sejarah
3. I La Galigo sebagai Naskah Karya Sastra

Andi Anthon Pagerang membahas I La Galigo sebagai Naskah Mythologi Religis. Menurut Prof. DR. Benedict ROG Anderson, dari Cornell University USA bahwa : “ Mythologi religis adalah upaya menjelaskan realitas. Menjelaskan hubungan antara manusia dengan alam raya, baik alam kodrati, maupun alam adi kodrati. Menjelaskan antara manusia dengan manusia dan menjelaskan hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri”.

Sebagai naskah Mythologi religis, naskah I La Galigo menjelaskan berbagai hal diantaranya adalah “ Cosmology” dari masyarakat Bugis yang terdiri 3 lapisan, yaitu:
1. Dunia Atas, yang disebut “ Boting langi” ( Puncak langit ketujuh atau Khayangan)
2. Dunia Bawah, yang disebut “ Toddang Toja” (Dasar samudra ketujuh)
3. Dunia Tengah, yang disebut “ Atawareng” ( ri alekkawa atau Permukaan bumi)

Sebagai naskah Mythologi religis, naskah I La Galigo juga menjelaskan System Phanteon ( dewa dewi) dari masyarakat Luwu. Patotoe atau Sang Penutun Nasib yang juga disebut Topalanrae atau Sang Pencipta atau dewa tertinggi yang menguasai alam ini bersemayam di dunia atas “ Boting Langi” bersama permaisuri “Palinge’e” (sang pengatur).

Di dunia tengah bersemayam Batara Guru Latoge Langi yaitu putra sulung Baginda Patotoe ( sang penentu nasib) bersama Permaisurinya Palinge’e (sang pengatur). Batara Guru Latoge Langi diturunkan ke bumi Atewareng ri Ale Kawa melalui sebilah bambo keemasan, karena itu Batara Guru Latoge Langi juga disebut “ Manurungnge Rilappa Tellang Pulawengge” ( baginda yang turun ke bumi melalui sebilah bambu emas) dan menjadi Raja atau Datu Payung Luwu yang Pertama.

Permaisuri Batara Guru Latoge Langi yaitu “ We Nyili Timo” ( Tatapan dari Timur) adalah putri sulung dari Guru ri Sellang bersama permaisurinya Sinau Toja yang bersemayam di dunia bawah atau “Toddang Toja”. We Nyili Timo timbul dari dasar samudra ketujuh, karena itu beliau juga disebut “ Tompoe ri Busa Empong” atau yang timbul dari busa busa ombak. Bersama “ Dewata Sewwae” (Yang Maha Esa), para dewa di Boting Langi dan Toddang Toja serta dewa dewi pembantunya menjadi tujuan peyembahan atau (worship) dari umat manusia yang hidup di Atewareng ri Ale Kawa atau di dunia tengah (Muka Bumi).

Sebagai Naskah mythologi Religis , Naskah I La Galigo juga menjelaskan tentang Alam keabadian, yang disebut “ Pammesareng” dimana segala arwah atau (roh) dari seluruh makhluk hidup dimuka bumi atau Atewareng akan kembali sesudah kematiannya. Pammesareng terdiri dari beberapa lapisan diantaranya adalah : Marapettang ( Alam Kegelapan) yaitu, semacam serambi dari Pammesareng. Selain itu terdapat Appesareng Waliala’e (tempat berkumpulnya para arwah dari segala mahluk yang sudah meninggal). Juga ada bagian yang disebut Sabbang Loang Takkalalla ( Negeri yang luas, bebas dan sejahtera).

Di dalam Naskah i La Galigo dijelaskan adanya mahluk gaib (yang setelah kedatangan ajaran Islam sering disebut sebagai JIN) antara lain disebut Paddengeng, Peresolae, Menru Kulie, To Alebboreng, Pulakkalie, Ilasualeng, Ilabecoci dan lain-lain.Selain itu dalam naskah I la Galigo juga menjelaskan berbagai ritual dan prosesi adat ( pada acara kelahiran, kematian dan persembahan lain-lain) yang wajib dilaksanakan oleh umat manusia di “ Atewareng ri ale Kawa” agar manusia memperoleh hidup yang sejahtera. Untuk melaksanakan ritual dan prosesi-prosesi adat maka dalam Naskah I La Galigo disebutkan bahwa telah diturunkan para Biksu yang bertugas sebagai Pemimpin Upacara atau ritual dan prosesi-prosesi adat.

Sebagai Naskah mythologi Religis, Naskah I La Galigo tentu saja menjelaskan berbagai petunjuk mengenai ketentuan, prinsip dan kaidah-kaidah serta nilai-nilai yang membentuk pandangan dunia dari masyarakat Luwu secara khusus dan masyarakat pendukung budaya galigo secara umum sebagai petunjuk tingkah laku sehari-hari.

Hal yang paling utama alasan bagi Patotoe ( sang penentu nasib) atau To Palanroe ( sang pencipta) untuk mengisi dunia tengah atau Atewareng ri Ale Kawa dengan manusia serta mahluk hidup lainnya. Sebab utama yang disebut oleh Naskah I La Galigo adalah agar ada mahluk dimuka bumi ( Atewareng ri Ale kawa) yang akan menyembah ke Boting Langi, apabila mereka ditimpa malapetaka/musibah, dengan melakukan upacara-upacara persembahan memohon pertolongan dan keselamatan dari Pototoe (sang penentu nasib) dan apabila umat manusia di Atewareng ri Ale kawa memperoleh rahmat dan anugrah dari Pototoe, maka mereka akan melaksanakan upacara-upacara sebagai ucapan rasa syukur kepada Pototoe ( sang penentu nasib). Maka dengan demikian kekuasaan Patotoe sebagai penentu nasib menjadi nyata/riil yang disebut “Talle” (nampak dan menjadi nyata).

Jadi tujuan hidup yang paling utama bagi manusia serta segala mahluk di dinuia ini adalah untuk mentaati atau memenuhi dan menjalani segala “TOTO” atau nasib yang ditentukan oleh Patoto’e (sang penentu nasib) bagi dirinya masing-masing sehingga kekuasaan Patoto’e sebagai penentu nasib menjadi “TALLE” atau menjadi nyata dan nampak. Dari situlah timbul anggapan tentang Toto atau nasib yang juga di sebut “WERE” ( Pemberian) Patoto’e ( sang penentu nasib) yang masing-masing berbeda-beda bagi setiap mahluk yang ada.

Toto atau Were juga disebut “Pura Kadona” atau ketentuan nasib yang telah disanggupi oleh setiap mahluk sebelum dilahirkan di muka bumi atau Atewareng. Karena itu di kalangan masyarakat tradisional Luwu atau masyarakat pendukung budaya Galigo, ada anggapan bahwa sebelum seseorangbisa menjalani segala ketentuan nasib dirinya yang telah ditetapkan oleh Patotoe dan telah diakuinya sebelum dilahirkan maka arwahnya tidak akan menyatu kembali (melebur dengan asal kesejatian yang tertinggi di alam keabadian yang disebut “Ammemengeng” (asal dari semua yang asal). Anggapan lain dari dalam Naskah I La Galigo yang penting didalam membentuk pandangan dunia dari masyarakat adat kedatuan Luwu adalah adanya anggapan tentang “ Tomanurung” yang turun dari Boting Langi, “Manurungge Batara Guru La Toge Langi” di anggap keturunan langsung Patotoe dan memiliki darah putih yang disebut “Maddara Takku”(berdarah putih). Darah Takku ini ini didistribusikan keseluruh lapisan masyarakat melalui pola kekerabatan bilateral (bilateral prinsip) yang menimbulkan staratifikasi sosial dan piramida kekuasaan di Atewareng ri Ale Kawa untuk dipatuhi sebagai ketentuan yang sakral yang telah ditetapkan oleh Patotoe (sang penentu nasib). Anggapan ini menjadi dasar legitiminasi kekuasaan pajung dan Raja-raja Luwu turun menurun sebagai penguasa di Kedatuan Luwu. Di dalam stratifikasi sosial yang hierarchical itu, pajung dan Datu Luwu dianggap sebagai pemersatu seluruh lapisan masyarakat dalam Kedatuan Luwu ke dalam satu ikatan bathin yang sakarl yang disebut ikatan “Massedi Siri” atau ikatan batin didalam suatu kemanunggalan siri atau kehormatan dan jati diri bersama.

Ikatan “Massedi Siri” itu merupakan semacam ideoligy politik karena tidak ada marga maka untuk membentuk dan menjaga integrites (keutuhan) ikatan Massedi siri diperlukan tokoh atau figure sentral yang diharapkan memiliki “sifat-sifat keutamaan” yang sangat diperlukan untuk mempersatukan “Siri” dari anggota-anggota kelompok yang sering memiliki kepentingan yang beraneka ragam.

Dan karena ikatan Massedi Siri adalah ikatan yang sangat azasi maka seluruh warga masyarakat dalam satu unit kekuasaan politik (kerajaan) juga dipersatukan secara keseluruhan dalam suatu “ikatan Massedi Siri”. Dengan demikian ikatan Massedi Siri adalah semacam “Ideologi Politik” didalam budaya politik masyarakat Luwu tradisional, dan Rajalah yang dianggap sebagai representasi bahkan personifikasi ikatan Massedi Siri tersebut.

Karena itu rajalah yang paling dianggap memiliki “sifat keutamaan” yang secara simbolis dianggap memiliki sifat-sifat “Tomanurung “. Jadi Tomanurung adalah symbol suatu “ideal type” dari kepemimpinan politik (political leader ship) dalam budaya politik masyarakat Luwu Tradisional. Secara Ethimologis kata Tomanurung berasal dari kata “To” yang berartiorang dan kata “Manurung” yang berarti turun. Jadi Tomanurung secara harfiah berarti orang yang datang dari tempat yang lebih tinggi. Dalam Naskah I La Galigo disebut berasal dari “Simpurunna Batarae ri Boting Langi” ( dari khayangan di puncak langit ketujuh).

Kalau kita melakukan reinterprestasi secara analitis maka Tomanurung adalah figure yang memiliki wawasan koneksi dari community yang lebih luas dan lebih maju. Tomanurung adalah figure yang mengerti “rahasia langit” dia mengerti sekaligus menguasai faktor-faktor intern maupun faktor-faktor ekstern yang bisa mempengaruhi perkembangan masyarakatnya. Dengan kata lain Tomanurung yang menguasai aspek-aspek kepemimpinan yang diperlukan masyarakatnya secara paripurna.

Dalam Naskah I La Galigo disebutkan bahwa pada usia masih sangat remaja Sawarigading lanjutkan berlayar melanglang buana, pergi meninggalkan wilayah kerajaannya dan berlayar dengan armadanya sampai batas yang paling jauh. Dalam Naskah I La Galigo disebutkan sampai di “Asabureng Pallojangnge” (pinggir samudra) atau sampai ke “Terra Incognito”( Wilayah yang paling tidak dikenal) bahkan sampai ke “Saliweng Langi” (diluar batas langit) atau di luar batas kemampuan manusia biasa.

Episode itu disebut “Sompelao ri Saliweng Langi Laona Mattana-tana” Tujuan utama pengembaraan Sawerigading disebut dalam Naskah I La Galigo ialah “Palele winru tangnga pangngara riseng ratunna” yang secara bebas berarti untuk mengkaji dan menguasai ilmu dan teknologi serta pola-pola kepemimpinan semua raja-raja (penguasa) yang ada dimuka bumi ini.

Jadi bukan untuk sekedar berpetualang yang didorong oleh semangat avonturisma yang vulgar, tapi lebih mirip sebagai sebuah prosesi yang harus dia jalani untuk memantangkan diri. Karena Sawerigading yang telah menguasai faktur-faktor intern dalam kerajaannya harus lebih dahulu menguasai faktor-faktor ekstern (Nalliburi-Sulapa Eppa’e) sebelum dia bisa diberi kekuasaan politik sebagai Raja (Datu), karena Visie (wawasan) maupun pengalaman bahkan koneksi seorang Tomanurung (pemimpin) harus paling sedikit satu tingkat diatas masyarakat yang dipimpinnya.

Jadi episode itu menggambarkan pengembaraan physic maupun pengembaraan spiritual, atau bathin Sawerigading untuk menguasai seluruh aspek-aspek kepemimpinan secara paripurna, yang didalam ungkapan bahasa Bigis dikatakan “Nalliburi Sulapa Eppa’e (segala segi telah dikuasai). Hanya dengan demikian Sawerigading bisa dianggap Representative sebagai seorang Tomanurung. Jadi seorang Tomanurung adalah figure yang visioner.

Sifat lain dari seorang Tomanurung adalah “Maddara Takku” atau memiliki “darah putih” seperti getah pohon takku (Kaktus). Hal ini mengandung arti simbolis bahwa seorang raja harus memiliki bathin yang bersih dalam lontara disebutukan “Tengmaccinnaiwi ulaweng matase tedong malampe tanru’na” (sudah tidak lagi menginginkan emas murni, atau kerbau panjang tanduknya) yang berarti telah berhasil dari pamrih dan godaan materi yang bersifat duniawi.

“Maddara Takku” (Berdarah Putih), berarti seorang raja tidak boleh apriori pada salah satu kekuatan atau aspirasi politik yang ada dalam kerajaannya. Raja tidak boleh memiliki klik atau kelompok ekslusif, karena dia harus menjadi representative bahkan personifikasi dari ikatan Massedi siri dari seluruh rakyat di dalam kerajaannya.

Hanya dengan memiliki bathin yang bersih serta pengendalian diri yang prima, seorang raja akan mampu menentukan semua aspirasi terutama aspirasi dari atas dan aspirasi dari bawah yang dalam bahasa Bugis diungkapkan sebagai “massolong pawo, mangelle wae pasang” (mengalir dari atas seperti air sungai dan berkembang dari bawah seperti air pasang). Dari penjelasan singkat di atas dapat disimpulkan bahwa figur “Tomanurung” adalah tokoh atau figur yang visioner dan profesional serta memiliki integritas pribadi yang prima dan menjadi unifiying factor yang mengikat seluruh lapisan masyarakat Luwu kedalam satu kesatuan ikatan “massedi siri” (manunggal dalam satu kesatuan siri atau kehormatan bersama yang kokoh dan kuat).

Demikian secara sepintas lalu gambaran ideal tentang “Tomanurung” sebagai simbol idela tipe dari kepemimpinan politik dalam buday politik dari masyarakat Luwu Tradisional. Dengan latar belakang seperti itulah maka kita mengenal beberapa Tomanurung di berbagai daerah Sulawesi Selatan antara lain “Manurungnge ri Tamalate” di Gowa, “Manurungnge ri Mattajang” di Bone, “Manurungnge Batara Guru” di Luwu, “Manurungnge Tomborolangi” di Toraja, “ Todilalin” di Mandar, dan lain-lain

Demikianlah cara Andi Anthon Pangerang memaknai Naskah I La Galiga sebagai Naskah Mythologi Religis. Naskah I La Galigo sendiri secara jelas mengkalim dirinya sebagai naskah Mythologi Religis antara lain melalui episode atau tereng yang terakhir yang disebut “Ri Gilinna Sinopatie” atau ketika tatanan alam raya telah dibalikkan. Didalam episode “Ri Gilinna Sinopatie” disebutkan bahwa telah tiba saatnya seluruh keturunan Tomanurung atau keturunan Dewa-dewi harus meninggalkan dan mengosongkan Atewareng ri ale Kawa (muka bumi) karena Al-furqan sudah akan diturunkan kemuka bumi.

2 Responses
  • Astri Damayanti
    Februari 15, 2016

    I La Galigo itu sastra keren yang dimiliki Indonesia

    • Petualang Cantik
      Februari 16, 2016

      Iya ya mba astri….semoga orang Indonesia tahu kalo kita punya naskah yang lebih keren dari naskah mahabarata.

What do you think?

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *