Melukis di Kertas Daluang ( Kertas Kayu)

by

Mbakku yang cantik, pinter sekali melukis. Semua yang dia torehkan kedalam media kertas, kanvas, atau apapun terlihat hidup dan bernyawa. Siapakah dia? Iya…iya… itu dia…. Mbakku Tanti Amelia. Walah, ngaku-ngaku…xixixi. Ngga kok…emang dia mbakku yang selalu tulus memuji walau tidak semua orang berani untuk memujiku, uhuuuk. Dia selalu bilang aku cantik dan eksotis, parahnya dia bilang aku incaran cowo bule, wadaaoow. Aku tahu ini cuma sekedar kasih semangat buat cari jodoh.

Mbakku ( Tanti Amelia) yang pake baju putih dan jilbab merah :)

Mbakku ( Tanti Amelia) yang pake baju putih dan jilbab merah 🙂

Dalam melukis mba Tanti Amelia sudah memiliki banyak prestasi. Banyak penulis yang pesan gambar ilustrasi untuk bukunya. Bahkan banyak brand yang menggandeng mba Tanti untuk bekerjasama dalam melakukan sebuah event menggambar, salah satunya adalah F*berCastl* dan Kartini Blue Bird. Dan yang paling keren adalah mba Tanti pernah diundang dalam acara bergengsi dunia di Malaysia masih dalam hal melukis. Pokoknya sepak terjangnya yang dulu hanya sekedar hoby, sekarang sudah diakui sebagai sebuah profesi yang keren.

20161201_094600

Nah, sekarang aku senang banget bisa dipilih untuk belajar menggambar di Museum Tekstile yang saat ini sedang menggelar sebuah acara Beaten Bark Exibhition sejak tanggal 1-30 November 2016. Kali ini berkerjasama dengan Kartini Blue Bird dalam acara melukis dengan kertas Daluang (bahan kulit kayu) pada tanggal 1 Desember 2016 sekaligus menutup pameran Daluang, Fuya dan Tapa (Beaten Bark Exibhition).

20161201_101602

Sebelum mulai menggambar kayanya perlu tahu apa itu Daluang yang menjadi media melukis kali ini. Menurut info yang saya dapat Daluang itu adalah kertas/kain yang terbuat dari kulit kayu Sae, Malo atau beringin. Kain ini belum banyak dikenal orang, namun di Sulawesi Tengah, seperti di Lembah Bada Kabupaten Poso, masyarakat masih mempertahankannya kehidupan kait kulit kayu ini.

Sejarah awal adanya kain kulit kayu di Indonesia sejak kedatangan bangsa Austronesia yang melakukan perjalanannya lewat dua jalur, yaitu darat dan laut. Jalur darat melawati Vietnam sedangkan jalur laut melewati Filipina. Kemungkinan terbesar, orang-orang Austronesia jalur laut inilah yang mendarat di Sulawesi. Mereka membawa peralatan pembuatan kain kulit kayu dalam perbekalannya. Sebab itu batu ike yang dipakai di Sulawesi ada persamaan dengan batu ike yang digunakan di Taiwan. Setelah itu melanjutkan perjalanan ke Mexico dengan bukti persamaan bahasa dengan penyebutan nama batu ike.

img_5131

Keberadaan kain kulit kayu ini sudah ada beribu-ribu tahun yang lalu, sejak zaman Neolitikum. Dibuktikan dengan adanya bukti sejarah berupa pakaian, naskah kuno dan kehidupan yang turun menurun sebagai fosil hidup ( warisan budaya). Kini sudah dicatat oleh Pemerintah RI melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ke dalam daftar  warisan tak benda Indonesia.

Berharap banget keberadaan Daluang, Daluwang, Dluwang atau Druwang ini bisa hidup dan bertahan di Indonesia. Karena ini merupakan benda bersejarah yang di miliki Indonesia. Meskipun belum banyak yang tahu, tapi kita perlu untuk menularkan informasi ke semua orang agar Daluang ini bisa dikenal dan berkembang di Indonesia. Menjaga kekayaan Indonesia agar tidak dirampas oleh negara lain menjadi tanggung jawab kita sebagai bangsa dan warga Indonesia.

20161201_114838

Saatnya mba Tanti menularkan ilmunya, agar kertas Daluang sebagai media menggambar ini menjadi karya terbaik bagi semua peserta yang menjadi murid-muridnya.

Kertas Daluang emang rentan untuk dijadikan media melukis. Bentuknya yang keras dan mudah robek membuat sulit untuk menorehkan pencil dan cat. Harus hati-hati, dan membutuhkan kelembutan hati agar lukisan di kertas Daluang menjadi indah dalam sebuah karya. Orang yang sudah biasa menggunakan kertas Daluang pasti mahir banget deh, maklum aku masih pemula. Menggambar saja masih belajar, terus harus gunakan kertas Daluang, waduh sulit…sulit…sulit.

20161201_124713

Aku masih mikir mau gambar apa, sementara waktu terus berjalan. Peserta lainnya sudah membuat sketsa gambarnya di kertas daluang, dan aku masih saja berkutat pada ide yang belum gelinding di kepalaku. Akhirnya aku coba intip peserta yang lainnya agar ideku muncul untuk membuat sebuah gambar. Ahaay…, aku lihat gambarnya bagus-bagus sekali, seperti mudah sekali mereka membuatnya. Ada juga yang masih bingung seperti diriku, bahkan ada yang putus asa.

Ah, aku ga boleh putus asa. Masa sih kesempatan bagus ini aku sia-sia tanpa sebuah karya. Akhirnya aku coba coret-coret kertas Daluangku, aku buat bulatan-bulatan kecil, lalu aku buat gambar seperti bunga. Lalu aku kemas bunga itu dalam sebuah kumpulan tangkai dalam lilitan kertas, seolah-olah sebuah rangkaian bunga yang siap diberikan untuk hadiah.

img_5134

Taraaaaam….akhirnya gambarku selesai. Meski hampir rusak karena cat yang digunakan justru merusak sketsa gambar yang aku buat. Untungnya nilai seni itu tidak harus sempurna, semua tergantung dari sudut mana kita menilai seni itu ada, atau jangan-jangan emang karyaku tidak ada nilainya….wkwkwk, just kidding kok.

Selain jago melukis, mba Tanti juga pinter menilai karakter orang dari gambar yang dibuat, bahkan bisa meramalkan kehidupan masa depan yang bagus kedepannya. Selesai gambar aku senyum-senyum sendiri melihat karyaku. Ternyata untuk menuangkan ide itu sulit jika kita tidak mau berusaha untuk memulainya. Dan untuk memulainya butuh energi kuat dari sekeliling kita. Udah, gitu aja. Pokoknya aku bangga dengan karyaku sendiri dan bangga bisa belajar dengan mbakku yang cantik dan pintar ini.

1 Response
  • Hastira
    Desember 9, 2016

    wah asyik juga dan aku juga baru tahu kertas semacam itu

What do you think?

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *