Ceng Beng : Cara Masyarakat Tionghoa Mengenalkan Silsilah Keluarga

by

 

Ceng Beng : Cara Masyarakat Tionghoa Mengenalkan Silsilah Keluarga

Ceng Beng : Cara Masyarakat Tionghoa Mengenalkan Silsilah Keluarga

Siang itu panas matahari sedang semangatnya membakar bumi. Tidak peduli mahluk di atas bumi kepanasan , tidak peduli keringat mengucur deras di tiap pori yang membesar, tidak juga peduli rasa haus yang mengeringkan tenggorok. Seolah-olah matahari hanya duduk diam acuh tak acuh tanpa menegur sapa. Sepertinya matahari enggan beranjak dari posisinya. Orang-orang disekitar Perkuburan  Sentosa juga tidak peduli, semua asyik dengan aktivitasnya masing-masing.

Pak Agus Sedang Bersihkan Kuburan Nenek dan Kakeknya

Pak Agus Sedang Bersihkan Kuburan Nenek dan Kakeknya

Begitulah yang dirasakan Keluarga Agus. Yang terpenting adalah kuburan nenek dan kakeknya bersih. Sudah dua hari mereka berpanas-panasan di sekitaran kuburan. Membersihkan rumput-rumput yang tumbuh, debu-debu yang melekat di dinding makam, mengganti warna kuburan dengan warna yang lebih cerah. Dia lakukan hanya untuk menyambut hari Ceng Beng yang sebentar lagi akan dia rayakan bersama keluarganya.

kuburan di hias tinta emas

kuburan di hias tinta emas

Begitu juga Keluarga Hadi, sengaja membawa orang untuk membantu membersihkan kuburan kakeknya yang dia sendiri tidak pernah melihat seperti apa bentuk kakeknya ketika hidup. Dia diamanatkan oleh bapaknya untuk membersihkan kuburan tersebut. Tulisan yang tercantum di kuburan tidak dapat dia baca, karena dia sendiri kurang paham bahasa Tionghoa. Tulisan tersebut sudah berkali-kali ganti warna. Kadang di cat dengan warna perak, kadang warna emas dan jika tidak punya uang untuk mengganti warna tulisan dia bikin dengan cat yang murah. “Yang penting terlihat bersih dan terpelihara “ kata hadi menceritakan tentang kuburan kakeknya ini.

Pak Ali sedang menata sesembahan di makam nenek buyutnya

Pak Ali sedang menata sesembahan di makam nenek buyutnya

Lain halnya keluarga Ali, mereka datang bersama istri dan dua anaknya yang masih kecil. Mereka juga sedang membersihkan makam nenek buyutnya. Sengaja mereka ajak anak-anaknya agar ketika besar nanti dapat melanjutkan ritual turun menurun leluhurnya ini. Di kuburan nenek buyutnya sendiri tertulis angka 20 dalam bahasa Tionghoa, yang berarti menandakan bahwa yang di makamkan adalah keturunan ke-20 dari keturunan leluhurnya. Sedangkan kakeknya adalah turunan ke-21, lalu bapaknya keturunan ke-22 dan Ali sendiri keturunan ke 23, jadi anak-anaknya menjadi keturunan ke-24. Begitulah urutan dalam hitungan keluarga Ali.

***

Kegiatan ritual Ceng Beng bagi beberapa masyarakat Tionghoa di Pangkalpinang adalah tempat mengajarkan dan mengenalkan Silsilah dalam keluarga. Meskipun mereka banyak yang tidak mengenal siapa yang ada dalam makam tersebut, setidaknya mereka tahu bahwa makam tersebut memiliki nilai sejarah bagi mereka dan simbol jati diri keluarganya.

Cerita diatas merupakan hasil ngobrol-ngobrol dengan beberapa orang keturunan Tionghoa ketika mendatangi Perkuburan Sentosa di Pangkalpinang. Banyak ragam budaya yang saya dapatkan dari kegiatan Hari Ceng Beng ini. Salah satunya yaitu tradisi mengenalkan silsilah keluarga agar tetap terjaga dan terpelihara dalam lingkup keluarga itu sendiri.

Sambutan orang-orang yang sedang melakukan Sembahyang Kubur atau Ceng Beng sangat baik. mereka mau menjelaskan apa yang sedang mereka lakukan kepada orang awam seperti saya. mereka ramah sekali terhadap orang-orang yang ingin mengetahui kegiatan mereka ini. Informasi dari mereka saya benar-benar membantu saya untuk memahami dan memaknai kehidupan beragama mereka. Meskipun para leluhur sudah lama meninggalkan mereka didunia, tetapi bakti mereka tetap harus mereka jalani sebagai bentuk terima kasih dan penghargaan terhadap leluhur mereka.

Hari Ceng Beng yang sedang di rayakan masyarakat Tionghoa di Pangkalpinang memiliki rentetan acara lain yang diselenggarakan oleh Yayasan Sentosa, Pemda Pangkalpinang, Pemda Prov. Kepulauan Bangka Belitung dan Kemenpar RI. Kegiatan tersebut meliputi rangkaian acara di hari inti yaitu Musik Tanjidor, Pelepasan Lampion, Barongsai dan Sembahyang Kubur.

Acara di mulai sejak dini hari pukul 03.00WIB. Masyarakat Tionghoa berduyun-duyun memadati Perkuburan Sentosa sejak pagi hari. Orang yang datang bukan hanya dari Pangkalpinang, tapi semua penjuru arah mata angin berkumpul demi melakukan sembahyang kubur di makam nenek moyang mereka. Ada yang datang dari Amerika, Eropa, Asia dan China daratan lainnya yang ada di beberapa negara tetangga Indonesia.

Harga-harga tiket melonjak naik dengan draktis. Bila ingin ke Pangkalpinang, harus jauh-jauh hari memesan tiket. Bagi keluarga yang melakukan sembahyang kubur mereka sudah dari jauh hari mengantisipasi tiket untuk perjalanannya. Sebab lonjakan pemesanan tiket ke Pangkalpinang membuat semua tiket habis terjual.

Ini merupakan fenomena yang telah mendapat perhatian dari Pemda Pangkalpinang dan Pemda Prov Bangka Belitung. Ceng Beng adalah perayaan terbesar masyarakat Tionghoa selain dari Imlek dan Cap Gomeh. Pemda Prov. Kepulauan Bangka Belitung sendiri akan menjadikan Hari Ceng Beng sebagai hari libur nasional.

Awalnya aku belum yakin dengan ramainya perayaan Ceng Beng di Pangkalpinang. Tapi setelah saya lihat sendiri keramaian yang ada dikuburan Sentosa membuat saya takjub. Betapa besarnya perhatian orang-orang Tionghoa terhadap leluhurnya, sehingga harga tiket yang melambung tinggipun dia usahakan untuk mendapatkannya. Hadir dipemakaman leluhur menjadi target keluarga mereka sebagai bukti nyata balas budi mereka terhadap leluhurnya. tanpa leluhur, tidak mungkin mereka ada di dunia ini.

***

Kuburan Sentosa dibangun pada tahun tahun 1935. letaknya di Jalan Soekarno Hatta Pangkalpinang. Luas Komplek sekitar 19.945 Ha dan sampai saat ini terdapat 12.950 makam. Yang tertua adalah makam keluarga Boen yang dipugar pada tahun ke 4 setelah kepemerintahan Sun Yat Sen. diperkirakan pada tahun 1915 juga sudah ada. Makam Tionghoa ini dibangun dalam bentuk dan arsitektur yang unik dan menarik, serta dihiasi dengan tulisan aksara Tionghoa yang indah. Sangat Jelas menunjukkan status sosial ekonomi orang yang dimakamkan.

Makam umumnya dibangun pada lokasi perbukitan, hal yang menunjukkan penghargaan dan penghormatan yang tinggi orang Tionghoa terhadap leluhur dan nenek moyangnya. Tanah perkuburan Sentosa merupakan sumbangan dari marga Boen, menurut tugu pendiri makam yang dibangun tahu 1935.

Makam yang tertua adalah Makam Oen Nyiem Foek. Komplek Pemakaman Sentosa didirikan oleh 4 orang yaitu Yap Fo Sun tahun 1972, Chin A Heuw tahun 1950, Yap Ten Thiam tahun 1944 dan Lim Sui Chian (tidak jelas wafatnya pada masa penjajahan Jepang).

Komplek pemakaman merupakan makam perkuburan terbesar se-Asia Tenggara dan sangat unik dan menarik dengan arsitektur yang benar-benar beda pada tiap makam, bahkan ada makam yang dibangun dengan batu granit seharga 500juta rupiah/ item. selain itu dari keseluruhan makam terdapat 2 makam beragama muslim.

Dengan banyaknya orang yang datang untuk melakukan sembahyang Ceng Beng setiap tahunnya merupakan sebuah keunikan tersendiri bagi orang Indonesia dan negara lain yang datang berkunjung di Pangkalpinang ini. Pemda Pangkalpinang dan Kemenpar harus benar-benar sigap menghadapi sebuah fenomena yang beredar di masyarakat PangkalPinang ini.

Menjadikan Ceng Beng sebagai tempat wisata rohani sangat menarik bagi saya dan orang lain yang ingin berkunjung ke Pangkalpinang. Saya berharap dengan pengalaman yang didapat bisa mengambil hikmah terbaik dari masyarakat Tionghoa di Pangkalpinang.

Menghias indah makam leluhur

Menghias indah makam leluhur

 

#PesonaPangkalpinang

14 Responses
  • Ety Abdoel
    April 17, 2016

    Wah, pengetahuan baru buat saya mba. Tradisi yang harus dipertahankan supaya mereka paham akan asal-usulnya.

    • Petualang Cantik
      April 17, 2016

      Betul mba…sayang kan kalau kita putus dari silsilah keluarga leluhur.

  • fauzi nurhasan
    April 17, 2016

    Mantap

  • liana maya
    April 20, 2016

    Bagus banget yah pangkal pinang

  • Sri Lestari
    Mei 7, 2016

    Wah memang kebudayaan mereka itu sangat berciri khas ya mbak, mulai dari hal kecil saja mereka selalu memperhatikannya.

  • Dee
    September 2, 2016

    Aku baru dengar istilah Ceng Beng ini. TFS Mak Lita, jadi menambah khazanah mengenai budaya Indonesia nih 😉

  • AMIR
    September 7, 2016

    Sampai 500jt cuma untuk tradisi Ceng Beng, Indonesia emang kaya budaya banget

    • Petualang Cantik
      September 8, 2016

      500jt yg dikeluarkan keluarga tionghoa utk marmer granit per-item . Coba banyangkan jika mereka beli min 4 item, kalikan saja….heheehe. masyarakat tionghoa emang ga segan2 keluar biaya utk leluhurnya.

  • nasional
    Desember 9, 2016

    Iseng buka linknya, alhamdulillah penuh pengetahuan, thanks for sharing, btw.

    Salam,
    Gabrilla.

Tinggalkan Balasan ke fauzi nurhasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *